Rabu, 08 April 2015

DIRIKU YANG AKAN DAN SEDANG MEMBANGUN TEORI LEARNING TRAJECTORY

Assalamualaikum wr.wb.
Bismillahirrahmanirrahim...

Dari kegiatan perkuliahan Lerning Trajectory hari Selasa, 7 April 2015, dapat saya pahami bahwa Learning trajectory atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan alur belajar. Alur belajar di sini pastilah yang dimaksudkan adalah alur belajar siswa. Sedangkan untuk para guru ada yang disebut dengan teaching trajectory atau alur mengajar guru. Belajar tentang learning trajectory bermula dari kita belajar memahami diri kita sendiri untuk dapat memahami orang lain. Bahwa kita sebagai manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna dan penuh dengan keterbatasan. Begitu pula dengan siswa kita, jadi wajar apabila siswa kita melakukan kesalahan-kesalahan dalam belajarnya. Dalam learning trajectory menyangkut empat aspek, yaitu aspek material, formal, normatif, dan spiritual.

1.      Aspek Material
Aspek material dalam learning trajectory bisa meliputi lingkungan belajar siswa. Lingkungan di sini meliputi lingkungan sosial, budaya, dan lain-lain serta  pembelajaran kontekstual atau yang disesuaikan dengan konteks wilayah dimana siswa melakukan kegiatan belajar. Dalam aspek material ini, siswa menggali dan membangun pengetahuannya sendiri malalui serangkaian pengalamannya dalam melakukan kegiatan. Pengetahuan yang didapatkan siswa dengan cara demikian akan lebih bermakna dibanding dengan ketika siswa mendapatkan pengetahuan dari cerita dan penjelasan yang diberikan oleh guru. Guru harus paham benar akan hal ini, bahwa pengalaman belajar siswa menjadi sangat penting dalam kegiatan belajar. Seperti ketika Prof. Marsigit menayangkan video pembelajaran team teaching di kelas Learning Trajectory hari Selasa, 24 Maret 2015 sangat memberikan banyak masukan kepada saya bahwa ketika kita melaksanakan pembelajaran dengan berorientasi pada kegiatan siswa, ternyata siswa akan berkreasi dan mengeksplore kegiatan belajar sehingga mereka dapat menemukan esensi dari kegiatan belajarnya bahkan di luar dari yang saya bayangkan. Siswa mampu menemukan konsep-konsep matematika sendiri dan guru tidak mengajari hanya memfasilitasi dan membimbing kegiatan belajar siswanya.

2.      Aspek Formal
Aspek formal dalam learning trajectory meliputi UUD 1945, Pancasila, UU, Perpu, Permen, Kurikulum, perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), LKS (Lembar Kerja Siswa), variasi dan interaksi belajar, dan juga assesmen. Kurikulum dan perangkan pembelajaran dapat kita kembangkan sendiri dengan disesuaikan dengan potensi wilayah. Perangkat pembelajaran harus dipersiapkan oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran. Perangkat pembelajaran ini penting dalam kegiatan pembelajaran karena merupakan acuan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Meskipun skenario pembelajaran telah dibuat oleh guru dalam RPP, namum pelaksanaan pembelajaran tidak kaku atau saklek, harus sama persis dengan skenario yang telah disusun. Pelaksanaan pembelajaran bersifat fleksibel dan kontekstual sesuai dengan keadaan di lapangan ketika pelaksanaan pembelajaran. Dalam menyusun LKS guru juga seyogyanya memperhatikan karakterisik siswa. Jadi LKS yang disusun guru telah disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan siswanya. Dalam mengeksplore atau mengembangkan perangkat pembelajaran, kita harus memperhatikan kebutuhan dan kedudukan siswa kita. Untuk dapat membelajarkan siswa, kita harus memahami teori dan praktek pembelajaran itu sendiri. Sesuai dengan teori Paul Ernest bahwa setiap tempat, daerah, atau wilayah memiliki karakteristk yang berbeda dengan daerah lain, maka tidak semua teori belajar dapat diterapkan pada semua wilayah. Mungkin akan efektif diterapkan di wilayah A, namun belum tentu tepat dan berhasil diterapkan di wilayah B. Sebelum melaksanakan pembelajaran terlebih dahulu kita harus memahami teori dan praktek pembelajaran, karena terkadang antara teori dan praktek tidak sejalan. Teori yang telah kita dapat belum tentu dapat kita terapkan dalam praktek pembelajaran. Praktek pembelajaran dapat kita pelajari secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung, kita dapat langsung terjun ke lapangan atau ke sekolah untuk mempraktekkan pembelajaran. Sedangkan secara tidak langsung dapat kita pelajari melalui penayangan video-video pembelajaran. Dari situ kita dapat mengambil manfaat baik dari sisi metode, media, maupun strategi yang digunakan dalam pembelajaran. Yang tentunya ketika nantinya kita menerapkannya dalam pembelajaran kita harus memperhatikan kebutuhan atau karakteristik siswa karena setiap jenjang pendidikan memiliki karakteristik dan kebutuhan yang tentunya berbeda-beda

3.      Aspek Normatif
Aspek normatif dari learning trajectory meliputi jurnal, penelitian, makalah, buku, prosiding, dan sumber referensi lainnya. Dengan kita mempelajari hal-hal tersebut kita akan dapat memahami pikiran kita sendiri yang berarti kita telah memahami filsafat. Karena sesungguhnya filsafat adalah olah pikir kita. Makna dari filsafat adalah hakikat, metode serta etik dan estetika. Hakikatnya adalah bahwa dalam sebuah sistem pendidikan (wadah) terdapat tiga ajaran (isi) yang dapat kita jadikan pedoman, yaitu ajaran dari Ki Hajar Dewantara yang meliputi Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Dalam isi, juga terdapat sintak atau menghubungkan pengetahuan-pengetahuan yang didapatnya. Metodenya adalah dengan memahami paradigma pembelajaran dengan kita mempelajari berbagai teori-teori belajar dan mengajar. Dengan membaca dan memahami berbagai teori belajar dari berbagai referensi kemudian kita menghubungkan teori-teori belajar tersebut. Sedangkan etik dan estetika dalam berfilsafat yaitu dengan kita berlaku sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Kita tahu batasan-batasan kita sebagai manusia dan sebagai guru. Bahwa siswa adalah siswa bukan diri kita. Maka kita tidak bisa menyamakan pemikiran siswa dengan pemikiran kita sebagai guru. Kita tidak bolek memaksa siswa kita untuk berpikir dan melaksanakan seperti apa yang kita pikirkan. Mereka memiliki kebebasan mereka sendiri untuk berpikir, dan mengembangkan pengetahuannya dan potensinya sendiri. Kita sebagai guru yang harus mampu memahami karakteristik siswa kita dan memfasilitasi mereka untuk berkembang dan menyalurkan bakat serta potensinya masing-masing.

4.      Aspek Spiritual
Aspek spiritual merupakan aspek tertinggi dalam semua hal. Aspek spiritual dari learning trajectory meliputi syariat, hakikat dan ma’rifat. Dengan segala keterbatasan kita sebagai manusia, kita tetap memiliki kewajiban untuk membagi dan menyampaikan apa yang kita ketahui atau apa yang kita miliki. Sebagai guru dengan segala daya dan upayanya untuk menuntun peserta didiknya membangun ilmu pengetahuan semoga menjadi ladang amal yang akan menemani kita mengarungi kehidupan di akhirat. Dan semoga ilmu yang kita sampaikan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi siswa kita. Dengan niatan yang tulus segala sesuatu yang kita kerjakan hanya diniatkan untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT.
Keempat aspek learning trajectory di atas yang akan kita gunakan untuk membangun hermeneutika learning trajectory. Seperti yang tampak pada gambar di bawah ini:


 Di setiap titik dalam spiral hermeneutika learning trajectory memiliki titik-titik yang akan membentuk spiral hermeneutika lain dalam membangun hidup yang meliputi sadar akan ruang dan waktu dalam membangun rutinitas dalam kebersamaan membangun hidup. Begitu juga dalam membangun pengetahuan diperlukan suatu kegiatan yang rutin artinya secara continue atau terus menerus melakukan kegiatan belajar untuk membangun pengetahuan. Karena sebenar-benar belajar adalah membangun pegetahuan, dan sebenar-benar membangun pengetahuan adalah kegiatan belajar.

Wassalamualaikum wr.wb


Oleh:
NAMA: ARIFAH NUR
NIM: 14712259017
MATA KULIAH: Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar
KELAS: PD P2TK DIKDAS
DOSEN PENGAMPU: Prof. Dr. Marsigit, MA.


3 komentar:

  1. Aslm, ada tiga macam spiral yg berbeda. Cermatilah. Wslm

    BalasHapus
  2. Aslkum, terimakasih Prof, sebenarnya saya memahami kesalahan percabangan spiral seharusnya spiral paling atas atau yang menjelaskan rutinitas itu seharusnya spiral dengan besar yang sama atau mungkin bisa dijelaskan bahwa sebuah rutinitas hanya dijalankan saja tanpa ada perubahan di dalamnya atau dapat dikatakan statis.
    Spiral ke dua atau yang menjelaskan kesadaran pada ruang dan waktu seharusnya dari bentuk besar ke kecil. Dan spiral ketiga yang menjelaskan tentang konsep membangun hidup atau dapat juga dikatakan membangun teori, yaitu spiral yang berkembang dari bentuk kecil ke besar.
    Terimakasih atas bimbingan Prof. Marsigit. Elegi-elegi Profesor banyak menginspirasi saya.
    Wassalamualaikum...wr.wb

    BalasHapus