Selasa, 14 April 2015

CONTOH PEMAHAMAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN
TEORI BRUNER

Dalam penyajian contoh berikut, saya menggunakan dasar teori Bruner yang disajikan dalam tiga tahapan, yaitu enaktif, ikonik, san simbolik. Penggambaran ketiga tahap tersebut adalah sebagai berikut:



Penjelasan:
Gambar di atas merupakan penggambaran tahapan teori Bruner dalam penerapan pembelajaran matematika dengan materi penjumlahan dua bilangan cacah.
Tahap 1 enaktif, siswa mempelajari penjumlahan dua ilangan cacah dengan menggunaka benda konkret berupa kelereng yang telah disiapkan oleh guru. Guru menyiapkan 3 buah kelereng dan 2 buah kelereng, kemudian dihitung jumlah seluruh kelereng yang ada.
Tahap 2 ikonik, siswa mempelajari penjumlahan dengan menggunakan gambar. Sudah tidak lagi menggunakan benda konkret, melainkan menggunakan gambar yang mewakili 3 buah kelereng dan 2 buah kelereng. Kemudian dihitung banyak kelereng semuanya, dengan menggunakan gambar tersebut, siswa bisa melakukan penjumlahan dengan menggunakan pembayangan visual (visual imagenary) dari kelereng tersebut.
Tahap 3 simbolik, siswa melakukan penjumlahan kedua bilangan itu dengan menggunakan lambang-lambang bilangan, yaitu : 3 + 2 = 5. Setelah siswa memahami penjumlahan tanpa menggunakan benda konkret, maka dapat melanjutkan menyelesaikan soal misalnya:
2+4 = ....
3+3 = ....
4+5 = ....
Dst

Sekian dan terima kasih. Semoga bermanfaat, dan apabila ada kesalahan mohon dikoreksi.

Senin, 13 April 2015


REVIEW DAN PETA KONSEP TEORI BELAJAR SISWA

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar

 Dosen : Prof. Dr. Marsigit, MA.
Oleh     : ARIFAH NUR 
  

A.    REVIEW TEORI-TEORI BELAJAR

1.      Behaviorism Theory (Teori Behaviorisme)
Teori behaviorisme atau behavioristik menekankan pada pembentukan perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori belajar behaviorisme menganalisis perubahan perilaku yang dihasilkan dari rangsangan tertentu di lingkungan. Teori behaviorisme dengan model hubungan stimulus-respon mendudukan pebelajar sebagai individu yang pasif. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini hal penting dalam belajar adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Beberapa prinsip dalam teori belajar behaviorisme (Gage, Berliner, 1979), meliputi:
a.       Reinforcement and Punishment (penguatan dan hukuman)
b.      Primary and Secondary Reinforcement (penguatan primer dan sekunder)
c.       Schedules of Reinforcement (jadwal penguatan)
d.      Contingency Management (pengelolaan Contingency)
e.       Stimulus Control in Operant Learning (kontrol stimulus dalam belajar)
f.       The Elimination of Responses (penghapusan respon)
Penggunaan komputer dalam pembelajaran behaviorisme meningkatkan pengalaman belajar bagi siswa. Skinner menemukan CBT (Computer Based Training) dan CAI (Computer Assisted Instruction). Siswa menggunakan CAI untuk belajar sejumlah kecil informasi yang diikuti dengan pertanyaan atau tes sederhana. Dengan cara ini, siswa termotivasi untuk memperluas pengetahuannya untuk mendapat penguatan yang positif. Oleh karena itu, siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan tingkat kemampuannya masing-masing, sehingga setiap siswa memiliki kesempaan untuk maju melalui kurikulum sesuai dengan kecepatan belajarnya sendiri (Wolman, 1973: 115).
Banyak kritik yang datang bagi teori behaviorisme ini, diantaranya dari pendidikan di British Columbia yang memfokuskan pembelajaran pada pendekatan kontruktivis dimana siswa membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan pada pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Program pelatihan guru di British Columbia mendorong guru untuk menghindari belajar dengan metode menghafal, dan behaviorisme, namun mendukung kemampuan memecahkan masalah dalam pembelajaran. Beatty (2002) mengingatkan bahwa model behavioris menyebabkan pembelajaran cenderung berpusat pada guru.
Tokoh-tokoh aliran behaviorisme di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, Skinner, van Pavlov.

2.      Social Cognitive Theory (Teori Kognitif Sosial)
Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru dari Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Bandura telah mengelaborasi proses belajar sosial dengan faktor-faktor kognitif dan behavioral yang memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial.
Konsep utama dari teori kognitif sosial adalah obvervational learning atau proses belajar dengan mengamati. Jika ada seorang "model" di dalam lingkungan seorang individu, misalnya saja teman atau anggota keluarga di dalam lingkungan internal, atau di lingkungan publik seperti para tokoh publik di bidang berita dan hiburan, proses belajar dari individu ini akan terjadi melalui cara memperhatikan model tersebut. Terkadang perilaku seseorang bisa timbul hanya karena proses modeling. Modeling atau peniruan merupakan "the direct, mechanical reproduction of behavior, reproduksi perilaku yang langsung dan mekanis (Baran & Davis, 2000: 184). Sebagai contoh, ketika seorang ibu mengajarkan anaknya bagaimana cara memasang kancing baju dengan memeragakannya berulang kali sehingga si anak bisa memasang kancing bajunya sendiri, maka proses ini disebut proses modeling. Teori kognitif sosial kembali ke konsep dasar "rewards and punishments" (imbalan dan hukuman) tetapi menempatkannya dalam konteks belajar sosial.
Teori kognitif sosial juga mempertimbangkan pentingnya kemampuan sang "pengamat" untuk menampilkan sebuah perilaku khusus dan kepercayaan yang dipunyainya untuk menampilkan perilaku tersebut. Kepercayaan ini disebut dengan self-efficacy atau efikasi diri (Bandura, 1977) dan hal ini dipandang sebagai sebuah prasayarat kritis dari perubahan perilaku.
Teori Kognitif Sosial memberikan sebuah penjelasan tentang bagaimana perilaku bisa dibentuk melalui pengamatan pada model-model yang ditampilkan oleh media massa. Efek dari pemodelan ini meningkat melalui pengamatan tentang imbalan dan hukuman yang dijatuhkan pada model, melalui identifikasi dari khalayak pada model tersebut, dan melalui sejauh mana khalayak memiliki efikasi diri tentang perilaku yang dicontohkan di media.

3.      Cognitive Information Processing (Proses Informasi Kognitif)
Dalam Cognitive information processing terdapat beberapa teori, diantaranya situated cognition/learning theory, knowledge forum, Components of Cognitive Apprenticeship: Scaffolding dan complexity theory. Situated cognition/learning theory. Cognitive information processing atau proses informasi kognitif merupakan teori yang dikemukakan oleh Etienne Wenger yang menyajikan dasar-dasar teori kognisi sebagai berikut:
a.       Aspek sosial merupakan aspek penting dari pembelajaran.
b.      Pengetahuan merupakan kompetensi yang berhubungan dengan usaha yang dihargai.
c.       Mengetahui merupakan partisipasi dalam mengejar pengetahuan, dan keterlibatannya secara aktif.
d.      Kemampuan untuk memahami dunia, dan keterlibatan dalam kegiatan belajar bermakna, kegiatan belajar sebenarnya adalah untuk menghasilkan (Wenger, 1998, hal.4, di Driscoll, 2005, p.164).


 





Pengetahuan dibangun secara kolaboratif, yang merupakan program sosial kontruktivis yang bertujuan untuk mendorong siswa membangun pengetahuan yag bermakna dan membentuk hubungan alami dengan dunia nyata.
Membangun pengetahuan yang efektif dapat ditempuh dengan cara:
a.       Fokus pada masalah, bukan topik: pengetahuan dibangun untuk memahami konsep-konsep dan menyelesaikan perbedaan.
b.      Menekankan desentralisasi, demokratis, dan terbuka dalam membangun pengetahuan, dengan fokus pada pengetahuan kolektif. Hal ini terjadi melalui interaksi sosial yang konstruktif dengan orang lain yang terlibat dalam masalah yang sama atau terkait.
c.       Anggota yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan tetap terlibat dalam proses membangun pengetahuan tetapi tidak harus menempatkan batasan ruang lingkup penyelidikan.
d.      Partisipasi anggota yang kurang berpengetahuan diutamakan agar kesenjangan antar anggota tidak terlalu mencolok.
e.       Melibatkan komunitas pengetahuan yang lebih luas yaitu masyarakat di seluruh dunia.
f.       Lingkungan memberikan kontribusi pada seseorang dalam membangun pengetahuan
Seperti yang kita lihat, knowledge building community menekankan pembangunan ide-ide baru melalui pembelajaran kolaboratif, suasana demokratis dalam lingkungan belajar. Knowledge Building Community (KBC) menyediakan kesempatan dan alat bagi peserta untuk menciptakan pengetahuan baru yang terus berkembang dengan jutaan peserta didik dapat berkontribusi.
Sesuai dengan zona pembangunan proximinal Vigotsky (ZPD), memungkinkan pelajar untuk memindahkan tugas dari ZPD ke Zona mereka Zone of Actual Development (ZAD). Wood, Bruner, dan Ross (1976, seperti yang dikutip oleh Rollins Burch, 2007) Saffolding merupakan istilah yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan cara orang tua memfasilitasi pembelajaran bahasa anak-anak mereka. Scaffolding digambarkan sebagai sistem pendukung yang membantu anak-anak mencapai sukses pada tugas-tugas yang terlalu sulit untuk mereka selesaikan sendiri. Teori Bruner ini dibangun di atas karya Vygotsky. Pelajar membangun scaffolding sesuai dengan tingkat perkembangan potensi mereka. Scaffolding adalah dukungan yang membantu pelajar mencapai tugas yang tidak akan mampu mereka capai tanpa bantuan; bantuan yang diberikan hanya pada saat dibutuhkan, yang dirancang untuk membantu pekerjaan pelajar dengan meningkatkan kemandirian.
Teori kompleksitas, juga dikenal sebagai teori sistem, menggambarkan kehidupan sebagai lingkungan yang selalu berubah. Variabel dalam suatu sistem dapat berubah dan mempengaruhi hasil dengan cara yang tak terduga. Perubahan tidak mengikuti jalur linear diprediksi. Tetapi melalui cabang di banyak arah yang membentuk jalur non-linear yang kompleks. Pendidikan tradisional dirancang untuk jalur linear dengan hasil diprediksi. Pendidikan perlu berevolusi untuk beradaptasi dengan jalur non-linear yang kompleks untuk membantu peserta didik untuk mengadopsi perubahan yang terjadi.

4.      Meaningfull Learning Theory (Teori Pembelajaran Bermakna)
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran, serta pembentukan sikap pada peserta didik. Kegiatan pembelajaran yang menyenangkan serta bermakna sangat bermanfaat bagi peserta didik khususnya untuk meningkatkan motivasi belajar. Jika penyajian pembelajaran tidak dilaksanakan secara bermakna maka siswa akan menjadi kurang tertarik / tidak berminat dalam mengikuti pembelajaran. 
Untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna maka model pembelajaran yang akan diterapkan guru pun menyesuaikan, salah satunya yaitu melalui Problem Based Learning (PBL). PBL merupakan sebuah pendekatan belajar kontruktivisme yang menjadikan siswa sebagai pusat belajar. Sehingga bentuk pembelajarannya aktif yang mencakup tiga definisi yaitu:
a.    Pembelajaran dirancang secara relevan sesuai dengan kemampuan siswa dan pertanyaan-pertanyaan yang digunakan menyediakan berbagai startegi pemecahan masalah.
b.    Siswa belajar dalam lingkungan yang melibatkan kempuannya sendiri serta partisipasinya dalam kelompok kecil. Sehingga besar sekali partisipasi siwa dalam pembelajaran dan peran guru memfasilitasi belajar siswa.
c.    Penilaian dan Evaluasi memainkan peran penting dalam model PBL.  Dalam M. Kumar & U. Natarajan (2007) menyebutkan bahwa tugas guru dapat menggabungkan alat penilaian/evaluasi dalam lingkungan belajar siswa.

 

                                                                   Bagan Model PBL
Beberapa pedoman desain masalah dalam model PBL sebagai berikut:
a.    Masalah harus berdasarkan keadaan di lingkungan sekitar peserta didik (kontekstual).
b.    Masalah harus menyediakan pedoman bagi siswa yang terdiri atas berbagai keterampilan.
c.    Masalah harus dirancang agar dapat mengangkat topik penyelidikan untuk mencakup tingkat kognisi dan metakognisi.
d.   Menyediakan berbagai informasi tambahan.
e.    Tutor atau fasilitator tidak harus seorang ahli, dapat diambil dari siswa yang lebih pandai yang dapat mengidentifikasi topik yang harus dibahas dalam sesi kelompok dan diskusi.
f.     Materi visual juga dapat disertakan dalam masalah meskipun itu tergantung pada sumber daya yang tersedia.
g.    Masalah harus menangani masalah-masalah nyata yaitu meliputi tiga alasan yaitu:
1)      Masalah yang benar-benar sulit akan membuat siswa semakin kaya dalam mencari solusi pemecahannya.
2)      Masalah nyata dapat memotivasi siswa untuk belajar.
3)      Pada akhirnya siswa ingin belajar dari hasil permasalahan tersebut.
h.    Dalam merancang masalah harus yang memiliki solusi yang jelas, dari yang sederhana menuju yang lebih rumit.
i.      Masalah harus membangun pengetahuan sebelumnya agar siswa termotivasi secara efektif untuk memecahkan masalah.
j.      Belajar dalam kelompok kecil adalah metode yang paling bermanfaat bagi siswa untuk bekerja dalam tim.
Dalam Sungur et al (2006) menyebutkan bahwa tujuan dari PBL adalah untuk mempersiapkan siswa agar siap untuk menghadapi hidup serta meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan cara mengharuskan siswa untuk berpikir tentang masalah kritis dan menganalisis data untuk menemukan solusi. Matematika adalah ilmu pengetahuan yang banyak diterapkan dalam kehidupan manusia. Pendekatan PBL membantu siswa untuk mempersiapkan siswa berpikir kritis dan analitis sehingga pengetahuan yang dipelajari di sekolah dapat diterapkan dengan lebih baik di dunia nyata. Beberapa manfaat PBL dalam pendidikan matematika yaitu:
a.       Melatih kemandirian dan tanggung jawab siswa.
b.      Memberikan berbagai permasalah realistis pada siswa yang sesuai dengan konteks tertentu.
c.       Menunjukkan siswa bahwa ada lebih dari satu cara untuk memecahkan masalah.
d.      Meningkatkan kerja kelompok atau kolaborasi dalam matematika.
e.       Meningkatkan motivasi diri dan berpikir kritis.
f.       Membantu siswa menunjukkan pemahaman dan pengetahuan mereka dalam cara yang non tradisional.
g.      Mendorong pembelajaran seumur hidup.
Maka dapat disimpukan bahwa model PBL pada berbagai mata pelajaran khususnya matematika memberikan kepada siswa sebuah pembelajaran yang bermakna. Ketika siswa telah merasakan bahwa pembelajaran ini bermanfaat bagi kehidupannya maka kebermaknaan dari pembelajaran tersebut akan semakin terasa.
Selain menggunakan PBL dalam desain pembelajaran yang bermakna dapat pula dengan menggunakan Collaborative learning yang bermula dari teori Vygotski, yang disebut ZPD (Zone of Proximal Development). Dalam Vianna (2006) disebutkan bahwa Vygotski berusaha menjelaskan perkembangan anak melalui praktek kolaboratif informatif yang melibatkan pengaruh budaya, alat-alat budaya, dan individu lainnya. Dalam Vygotsky (1978) disebutkan definisi ZPD yaitu "jarak antara tingkat perkembangan aktual seperti yang ditentukan oleh pemecahan masalah independen dan tingkat perkembangan potensial yang ditentukan melalui pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa, atau bekerja sama dengan rekan-rekan yang lebih mampu. Dalam Woolfolk (2000) juga disebutkan bahwa ZPD adalah area di mana anak tidak bisa memecahkan masalah sendiri tapi berhasil menyelesaikannya di bawah bimbingan atau bekerja sama dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih maju. Salah satu model pembelajaran yang terkait dengan teori ini yaitu melalui collaborative learning. Dengan collaborative learning siswa berlatih bekerja sama, saling membantu dalam menyelesaikan tugas belajar, sehingga tumbuh keyakinan (self efficacy) dalam diri siswa yang kuat untuk dapat menyelesaikan suatu masalah ataupun tugas saat pembelajaran. Di dalam collaborative learning juga terdapat pengajaran timbal balik, strategi inilah yang menyediakan cara untuk mengases zona perkembangan proksimal (ZPD). Selain collaborative learning terdapat model pembelajaran untuk mendukung ZPD yaitu melalui partisipasi terpadu, magang, penemuan (mendorong siswa untuk mencoba keterampilan baru, pemodelan), guru juga dapat menggunakan petunjuk serta memberikan pertanyaan bagi siswa.
Telah disebutkan di atas bahwa penialaian dan evaluasi memainkan peran penting dalam model PBL. Evaluasi merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. Tujuan dari evaluasi pembelajaran adalah memberikan umpan balik tentang pembelajaran dan membimbing guru dan siswa untuk membuat tugas-tugas pembelajaran yang tepat.
Dalam sudut pandang kontruktivifisme evaluasi dapat dilaksanakan melalui penilaian formatif, sumatif dan penilaian diri. PBL termasuk model pembelajaran dengan pendekatan kontruktivis  sehingga bentuk evaluasi cenderung subyektif dalam proses pembelajarannya pun siswa mencapai pengetahuan dengan membangun pengetahuan itu sendiri. Evaluasi kontruktivisme berfokus pada poses belajar individu dalam mencapai proses penciptaan pengetahuan. Setiap pelajar dianggap berbeda dalam kekuatan individu, kelemahan, dan pengetahuan sebelumnya, serta pengalaman. Evaluasi berfokus pada bagaimana peserta didik mampu mempelajari materi baru melalui menghubungkan dengan pengetahuan sebelumnya untuk membuat ikatan abadi dalam pikiran pembelajar. Melalui hubungan ini, kemampuan siswa dievaluasi untuk menerapkan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata sehingga pengetahuan yang didapatkan akan semakin kuat dalam pikiran siswa.

5.      Developmental Approach (Pendekatan Perkembangan)
Developmental Approach, merupakan teori belajar yang berdasarkan tahap tumbuh kembang anak. Teori Developmental, meliputi development stage theory, Problem Based Learning dan Evaluation Constructivist Learning. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Piaget, bahwa anak-anak bisa mengembangkan kognisi dan pengetahuan melalui serangkaian tahap perkembangan. Untuk berpindah dari satu tahap ke tahap berikutnya, melalui penggunaan asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan, keuntungan dan membangun schema, yang ditransfer ke tahap berikutnya dan dibangun lebih lanjut atas secara constructionist (wikipedia.org). Syarat utama terjadinya proses pengembangan kognitif dan pengetahuan menurut Piaget:
a.       Asimilasi            : Memasukkan struktur skema baru ke dalam skema yang sudah ada.
b.  Akomodasi     : Memodifikasi struktur logis atau skema yang disesuaikan dengan lingkungan.
c.       Equalibrasi       : Keseimbangan antara struktur kognitif asimilasi dan akomodasi dalam mencapai pengetahuan.
d.      Egosentrisme     : Kegagalan untuk memahami sudut pandang orang lain yang mungkin berbeda dari diri mereka sendiri. Penelitian Piaget menunjukkan fakta bahwa egocentrisim paling menonjol sebelum usia enam atau tujuh tahun. Namun, kemudian penelitian Piaget, serta yang penelitian lain, telah memperkirakan bahwa egosentrisme dapat timbul pada setiap tahap perkembangan, tetapi dalam bentuk yang baru dan berbeda.
Empat tahap perkembangan menurut piaget:
a.    Tahap sensori-motor (0 – 2 tahun)
1)     Kecerdasan ini ditunjukkan melalui aktivitas motorik tanpa menggunakan simbol-simbol.
2) Pengetahuan tentang dunia terbatas karena didasarkan pada interaksi fisik/pengalaman.
3)      Anak-anak mencapai objek permanence sekitar 7 bulan.
4)  Aktifitas fisik memungkinkan anak untuk mulai mengembangkan kemampuan intelektual baru.
5)      Beberapa kemampuan simbolik (bahasa) yang dikembangkan pada akhir tahap ini
b.    Tahap pra operasional (2-7 tahun)
1)      Perkembangan kecerdasan ditunjukkan melalui penggunaan simbol-simbol, bahasa, memori dan imajinasi..
2)      Berpikir tidak logis, dengan cara nonreversible.
3)      Dominan berpikir egosentris.
c.    Tahap operasional konkret ( 7-11 tahun)
1)      Kecerdasan pada tahap ini ditunjukkan melalui manipulasi logis dan sistematis simbol yang berkaitan dengan benda-benda konkrit.
2)      Pemikiran operasional berkembang (tindakan mental yang bersifat reversibel).
3)      Pemikiran egosentris berkurang

d.   Tahap operasional formal (11 tahun-dewasa)
1)   Kecerdasan ini ditunjukkan melalui manipulasi logis dari simbol yang berkaitan dengan konsep-konsep abstrak.
2)   Pada awal periode ini ada sedikit kecenderungan kembali ke pemikiran egosentris.
3)   Banyak orang dewasa tidak pernah mencapai tahap ini.

                Sedangkan teori  PBL diidentifikasikan  sebagai strategi untuk belajar aktif dan mencakup tiga segi. Pertama, PBL terdiri dari masalah yang dirancang dan relevan dengan bidang siswa. Pertanyaan-pertanyaan yang menantang dan menuntut siswa untuk menggunakan berbagai strategi pemecahan masalah. Kedua, siswa belajar dalam lingkungan yang melibatkan kombinasi dari pengarahan diri sendiri dan partisipasi kelompok kecil. Ketiga, peran guru dan siswa yang berbeda dari pembelajaran tradisional. Siswa mengambil lebih banyak tanggung jawab atau aktif dalam lingkungan belajar sedangkan guru memfasilitasi. Namun, seperti dengan metode tradisional pedagogi, penilaian dan evaluasi memainkan peran penting dalam model PBL. Karena kenyataan bahwa "lingkungan PBL biasanya didasarkan pada prinsip-prinsip konstruktivisme" adalah penting bagi guru untuk menggabungkan alat penilaian/evaluasi dalam lingkungan belajar mereka (M. Kumar & U. Natarajan, hal.94). Asal usulnya adalah di tahun 1970-an di McMaster University Fakultas Kedokteran. Sebagai kelompok kecil siswa bekerja melalui kasus (masalah) kemudin mereka menghasilkan pertanyaan dan menyelidiki pengetahuan mereka sebelum mencoba membuat hipotesis untuk menjelaskan fenomena yang telah dianalisis. Para siswa mengembangkan masalah pembelajaran di mana mereka belum memiliki pengetahuan yang cukup. Masalah pembelajaran yang diteliti tersebut diperbaiki pada sesi berikutnya sampai siklus masalah selesai. Instruktur dalam ha ini guru membantu memfasilitasi eksplorasi siswa dengan mengajukan pertanyaan membimbing . Fasilitator tidak perlu menjadi ahli konten pada masalah (Barrows, p 43) , guru menyediakan informasi yang diperlukan tentang kasus ini dan memberikan beberapa pertanyaan membimbing. Karena "Masalah" yang mendorong pembelajaran, mengembangkan masalah yang baik merupakan dasar yang efektif dalam  PBL.


6.      Social Formation Theory (Teori Formasi Sosial)
Teori formasi sosial, menyangkut di dalamnya adalah social learning theory, collaborative knowledge building model, connectivism, ZPD, collaborative learning, dan teori modeling. Inti dari teori formasi sosial adalah bahwa pembelajaran melibatkan suatu komunitas belajar yang saling terkait dan saling memberikan masukan demi kemajuan bersama. Atau dengan kata lain pembelajaran dengan cara berkolaborasi.
Pembelajaran kolaboratif adalah suatu situasi di mana dua atau lebih orang belajar atau mencoba untuk belajar sesuatu bersama-sama. (Dillenbourg: 1999) Tidak seperti belajar individu, orang yang terlibat dalam pembelajaran kolaboratif memanfaatkan satu sama lain sumber daya dan keterampilan (Chiu: 2000). Menurut Chiu (2008) pembelajaran kolaboratif didasarkan pada model bahwa pengetahuan dapat dibuat dalam populasi di mana anggota aktif berinteraksi dengan berbagai pengalaman dan mengambil peran asimetri. Pembelajaran kolaboratif mengacu pada metodologi dan lingkungan di mana peserta didik terlibat dalam tugas umum di mana setiap individu tergantung dan bertanggung jawab satu sama lain (Mitnik: 2009). Termasuk di dalamnya percakapan tatap muka (Chiu: 2008) dan diskusi komputer (forum online, chat room, dll.).
Pembelajaran kolaboratif sangat berakar pada pandangan Vygotsky bahwa ada sifat sosial yang melekat pembelajaran yang ditunjukkan melalui teori Zone of Proximal Development (ZPD). Seringkali, pembelajaran kolaboratif digunakan sebagai istilah umum untuk berbagai pendekatan dalam pendidikan yang melibatkan upaya intelektual bersama oleh siswa atau siswa dan guru (Lee: 2000). Dengan demikian, pembelajaran kolaboratif umumnya digambarkan ketika kelompok siswa bekerja sama untuk mencari pemahaman, makna, atau membangun pengetahuan mereka (Smith: 1992). Kegiatan belajar kolaboratif dapat mencakup menulis kolaboratif, proyek kelompok, pemecahan masalah bersama, debat, tim studi, dan kegiatan lainnya (Chiu:2004).
Vygotsky berusaha untuk menjelaskan perkembangan anak melalui praktek kolaboratif transformatif yang melibatkan pengaruh budaya, alat-alat budaya, dan individu lainnya (Vianna, 2006). Penekanan pada perkembangan pembelajaran ini adalah kolaborasi, yang mengarah pada Zone of Proximal Development Vygotsky (ZPD). Vygotsky menyatakan bahwa ZPD adalah "jarak antara tingkat perkembangan aktual seperti yang ditentukan oleh pemecahan masalah independen dan tingkat perkembangan potensial yang ditentukan melalui pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa, atau bekerja sama dengan rekan-rekan yang lebih mampu. "(Vygotsky, hal. 86, 1978). Atau dengan kata lain, ZPD adalah area di mana anak tidak bisa memecahkan masalah sendirian tapi berhasil dapat menyelesaikannya di bawah bimbingan atau bekerja sama dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih maju (Woolfolk, 2000, p. 47).
Melalui bantuan orang lain, pelajar mungkin dapat mencapai pengetahuan lebih dari ketika pelajar belajar sendiri. Ide bimbingan telah terlihat, di mana pengetahuan pelajar dibangun secara berlapis, dengan masing-masing tingkat instruksi pada lapisan lain (Oxford, 1997). Bimbingan rekan-rekan yang lebih kompeten membantu dalam pengalaman pelajar (Vygotsky, 1978). Kuncinya adalah pada akhirnya peserta didik akan dapat melakukan tugas yang sama terkait atau memahami konsep tanpa bantuan dari rekan atau pendidik.
Pembelajaran kolaboratif terjadi ketika individu secara aktif terlibat dalam sebuah komunitas di mana pembelajaran terjadi melalui upaya kolaboratif eksplisit atau implisit. Pembelajaran kolaboratif sering digambarkan sebagai proses kognitif dimana orang dewasa berpartisipasi sebagai fasilitator pengetahuan dan anak-anak sebagai penerima. Namun, masyarakat Amerika menggambarkan bahwa pembelajaran kolaboratif terjadi karena partisipasi individu dalam belajar terjadi pada bidang horizontal di mana anak-anak dan orang dewasa adalah sama. Menurut Paradise (1985) pembelajaran kolaboratif juga terjadi ketika anak-anak dan orang dewasa terlibat dalam aktivitas bermain, bekerja, dan kegiatan lainnya secara bersama-sama.

7.      Representation and Discovery Learning (Pembelajaran Representasi dan Penemuan)
Desain pembelajaran yang berpusat pada siswa memerlukan perancangan yang dapat digunakan untuk mengembangkan suatu produk atau system yang akan dapat digunakan serta bermanfaat bagi siswa. Dalam Norman (1988) menyebutkan manfaat dari desain pembelajaran yang berpusat pada siswa yaitu memudahkan untuk menentukan tindakan apa yang mungkin setiap saat, membuat hal-hal yang terlihat seperti konsep, tindakan, dan hasil, memudahkan untuk mengevaluasi system keadaan saat ini, dan membentuk hubungan yang alami serta memberikan tindakan yang tepat. Peran guru adalah memastika bahwa pengguna dapat memanfaatkan produk sebagaimana yang dimaksud.
Dalam membuat sebuah desain pembelajaran guru diharapkan memenuhi kebutuhan standar isi dan menjawab pertanyaan “apa yang akan diajarkan”. Guru mebutuhkan model pembelajaran yang sesuai dengan standar yang menunjukkan bagaimana pembelajaran dan pengajaran yang sesuai dengan standar konten serta basis informasi yang kuat. Universal Desain Pembelajaran (UDL) adalah teori pembelajaran yang telah dikembangkan oleh Rose dan Meyer, yang berusaha memastikan bahwa lingkungan belajar, termasuk kurikulum, penilaian dan pengajaran dan alat belajar meningkatkan belajar dan menghilangkan hambatan untuk belajar.
Belajar penemuan adalah teknik pembelajaran berbasis penyelidikan dan dianggap sebagai pendekatan berbasis konstruktivis untuk pendidikan. Hal ini didukung oleh karya teoritis belajar dan psikolog Jean Piaget, Jerome Bruner, dan Seymour Papert. Pembelajaran penemuan terjadi dengan memecahkan suatu masalah di mana pelajar mengacu pada pengalamannya sendiri dan pengetahuan sebelumnya serta merupakan metode pengajaran di mana siswa berinteraksi dengan lingkungannya dengan mengeksplorasi dan memanipulasi benda, bergulat dengan pertanyaan dan kontroversi atau melakukan percobaan. Maka pembelajaran berbasis masalah (PBL) sesuai dengan teori discovery learning ini.

8.      Contructivist Approach (Pendekatan Konstruktivis)
Yang termasuk dalam teori Contructivist Approach ini adalah PBL Design, Evaluation Constructivist Learning, Evaluation in Instructional Design Kirkpatrick Level Model. Contructivist Approach atau pendekatan konstruktivis merupakan teori belajar yang menggunakan pendekatan pada konsep membangun pikiran anak.
Dari sudut pandang konstruktivis, proses pembelajaran ditekankan atas produk akhir. Evaluasi dalam konstruktivisme sebagai pembelajaran berupa penilaian formatif dan penilaian diri, sedangkan sebagai evaluasi belajar berupa penilaian sumatif. Sementara behaviorisme dan kognitivisme fokus pada pengukuran hasil yang spesifik, obyektif, konstruktivis cenderung subyektif menilai pekerjaan siswa. Perjalanan dalam mencapai pengetahuan adalah sama pentingnya dengan pengetahuan itu sendiri.
Menurut Andrew Scholtz (2007) , jika penilaian mencerminkan praktek profesi, panggilan atau praktek yang dinilai, sementara pada saat yang sama memberikan kesempatan pada pelajar untuk menunjukkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Lorrie Shepard (2000) menjelaskan pendekatan ini untuk penilaian berbasis kinerja, di mana menilai pemahaman siswa, umpan balik dari rekan-rekan, dan self-assessment (penilaian diri) siswa adalah bagian dari proses sosial yang menengahi pengembangan kemampuan intelektual, konstruksi pengetahuan, dan pembentukan identitas siswa.
Evaluasi dalam kelas konstruktivis, dilakukan dengan metode yang dirancang untuk fokus pada proses yang digunakan pelajar untuk mendapatkan pengetahuan. Melalui penilaian diri dan refleksi, pelajar memperkuat hubungan pengetahuan tersebut di dalam pikirannya. Guru menggunakan berbagai metode penilaian formatif untuk memantau proses pelajar dan menentukan bagaimana pelajar belajar. Pendekatan konstruktivis menggunakan dua prinsip utama:
a.       Siswa belajar atau menerima pengetahuan dengan terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan dari lingkungan.
b.      Pengetahuan datang  melalui proses persepsi, pengalaman, dan refleksi.
9.      Social Approach (Pendekatan Sosial)
Pendekatan sosial atau social approach terkait dengan social learning theory, collaborative knowledge building model, connectivism, ZPD, collaborative learning. Konsep collaborative knowledge building (CKB) diperkenalkan oleh Scardamalia dan Bereiter (1994) dalam penelitian mereka pada proses belajar di sekolah, di mana mereka mengusulkan bahwa sekolah harus berfungsi sebagai masyarakat pembangun pengetahuan. Model collaborative knowledge building adalah model pembelajaran di mana ada beberapa tahapan yang merupakan siklus knowledge building pribadi dan sosial. CKB adalah penyelidikan dalam pelayanan kegiatan praktis yang merupakan seperangkat keyakinan pribadi, yang diartikulasikan sebagai kontribusi kepada proses membangun pengetahuan sosial. Sebuah kondisi yang diperlukan untuk membangun pengetahuan kolaboratif adalah bahwa peserta didik membawa pengetahuan sebelumnya ke dalam situasi belajar dan memperjelas perbedaan pandangan dan pendapat dalam berinteraksi. Pengetahuan baru ini muncul tidak alami atau spontan namun perlu dibina berdasarkan pemahaman tentang bagaimana pengetahuan baru muncul dalam interaksi sosial.
Penggunaan jaringan komputer memberikan alternatif dalam mengajar tradisional tatap muka berubah menjadi konsep kelas dengan konsep collaborative knowledge building bagi peserta didik. Model collaborative knowledge building menggabungkan wawasan dari berbagai teori pemahaman dan pembelajaran dan menyediakan kerangka kerja konseptual yang berguna untuk desain perangkat lunak Computer Supported Collaborative Learning (CSCL) dan lingkungan. Penelitian terakhir, proyek dan kerja telah menunjukkan efektivitas perangkat lunak dan lingkungan dalam memfasilitasi dan meningkatkan collaborative knowledge building siswa.
Proses CKB digambarkan sebagai momen sinergis dimana kelompok mencapai pemahaman bersama dengan berpartisipasi dalam proses sosial budaya. Setiap anggota kelompok membawa perspektif dan interpretasi dari pengalaman pribadi mereka. Proses di mana kelompok mencapai pemahaman bersama dan antar-subjektivitas melalui interaksi konstan dipecah menjadi kegiatan peningkatan pengetahuan yang lebih kecil. Pandangan CKB, belajar sebagai proses sosial menggabungkan beberapa tahapan yang merupakan siklus membangun pengetahuan pribadi dan sosial. Dukungan komputer dapat digunakan untuk mengintegrasikan berbagai tahapan dalam siklus membangun pengetahuan untuk meningkatkan lingkungan belajar dan memperkenalkan collaborative knowledge building. Saat ini ada software dan perangkat lunak sosial yang mungkin lebih mamadai untuk mendukung pengembangan pengetahuan kolaboratif dalam lingkungan pembelajaran berbasis komputer.

10.  Technological Approach (Pendekatan Teknologi)
Technological Approach merupakan suatu teori pembelajaran yang menggunakan pendekatan teknologi sebagai metode maupun media pembelajaran. Teori ini meliputi, The Effective Web Design Paradigm, User-Centred, Differentiated Instruction and Understanding by Design. Teori ini terlihat pada kombinasi yang kuat dari tiga model pengajaran/pembelajaran yang berbeda; Understanding by Design (UBD), Differentiated Instruction (DI) dan Universal Design Learning (UDL). Dengan mendefinisikan dan menguraikan kekuatan dari model pembelajaran  individual, menjadi jelas bahwa bersama-sama mereka membentuk sebuah pendekatan pengajaran yang kuat dan holistik. 
Understanding by Design memenuhi kebutuhan untuk standar isi dan menjawab pertanyaan: "Apa yang kita ajarkan". Dengan peningkatan ekspektasi konten di semua tingkatan kelas serta ujian dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah yang membandingkan tingkat prestasi sekolah; mengajar di kelas menjadi tidak sepenuhnya bermanfaat bagi pembelajaran. Guru membutuhkan model yang menyumbang standar tetapi juga menunjukkan bagaimana pembelajaran dan pemahaman dapat mengatasi standar konten serta mengembangkan basis informasi yang kuat.
Differentiated Instruction melihat pada cara dan di mana kita mengajar siswa kita, berfokus pada praktek-praktek terbaik untuk masing-masing peserta didik. Selain harapan konten adalah sulitnya memenuhi kebutuhan beragam kelas. Bahasa, budaya, jenis kelamin, kesenjangan ekonomi, motivasi, cacat, kepentingan pribadi dan gaya belajar serta lingkungan rumah hanya beberapa dari banyak variabel yang dibawa siswa ke sekolah. Variabel-variabel ini dapat menyebabkan kurikulum tidak efektif bahkan jika kebutuhan beragam kelas tidak terpenuhi. Differentiated Instruction menawarkan kerangka desain kurikulum yang dapat mengakomodasi perbedaan di kelas.
Universal Design Learning (UDL) adalah teori pembelajaran yang telah dikembangkan oleh Rose dan Meyer, yang berusaha memastikan bahwa lingkungan belajar, termasuk kurikulum, penilaian dan pengajaran serta alat belajar meningkatkan proses belajar dan menghilangkan hambatan untuk belajar. Universal Design adalah istilah yang diciptakan oleh Ron Mace pada tahun 1960 diterapkan pada desain "bebas hambatan" atau arsitektur diakses yang akan menguntungkan semua. Konsep ini dimulai oleh Ron Mace ketika mencari metode untuk memperbaiki kehidupan bagi penyandang cacat.

B.     HUBUNGAN ANTAR TEORI BELAJAR/ALUR PIKIR SISWA
                                              Bagan Hubungan Teori Belajar

Penjelasan dari bagan di atas adalah bahwa semua teori belajar yang digunakan guru dalam pelaksanaan pembelajaran mengacu pada kurikulum yang diterapkan. Teori belajar merupakan cara atau langkah yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan memperhatikan berbagai aspek peserta didik sebagai subjek belajar.
Penggunaan berbagai teori belajar dalam pelaksanaan pembelajaran dimaksudkan untuk mengembangkan potensi dan kompetensi yang dimiliki peserta didik. Di samping itu, dalam pemilihan teori belajar juga harus disesuaikan dengan karakteristik serta tingkat kemampuan peserta didik. Karena setiap peserta didik memiliki potensi, kemampuan, dan kecerdasan di bidang yang berbeda-beda.
Empat teori belajar yang ada di sebelah kiri yaitu Cognitive Information Processing, Social Cognitive Theory, Social Formation Theory, Social Approach dicirikan dengan model pembelajaran kolaboratif atau Collaborative Learning. Dalam teori Cognitive Information Processing dikenal istilah Knowledge Building Community yang menekankan pembangunan ide-ide baru melalui pembelajaran kolaboratif, dan suasana demokratis dalam lingkungan belajar.
Dua teori belajar yang ada di sebelah bawah yaitu behaviorism theory dan technological approach saling berkaitan karena sesuai dengan teori behaviorisme di atas bahwa dengan penggunaan komputer dalam pembelajaran behaviorisme meningkatkan pengalaman belajar bagi siswa.
Sedangkan empat teori belajar yang ada di sebelah kanan yaitu Meaningful Learning Theory, Developmental Approach, Constructivist Approach, Representation&Discovery Learning dicirikan dengan pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning (PBL). Dengan penyajian masalah dalam model PBL, peserta didik dituntun untuk menemukan pemecahan dari masalah yang disajikan dalam pembelajaran. Ketika peserta didik telah menemukan solusi untuk pemecahan dari permasalahan tersebut, dengan otomatis siswa akan membangun pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan dasar yang sudah dikuasainya. Maka dengan penggunaan model PBL, pembelajaran menjadi lebih bermakna (meaningful learning) bagi siswa karena dia menemukan sendiri atau membangun pengetahuan sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya.
Dalam bagan di atas, collaborative learning juga berhubungan dengan PBL karena anak SD cenderung belum bisa memecahkan masalah sendiri tapi mereka membutuhkan bimbingan atau bekerja sama dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih maju. Salah satu model pembelajaran yang terkait dengan teori ini yaitu melalui collaborative learning. Dengan collaborative learning siswa berlatih bekerja sama, saling membantu dalam menyelesaikan tugas belajar, sehingga tumbuh keyakinan (self efficacy) dalam diri siswa yang kuat untuk dapat menyelesaikan suatu masalah ataupun tugas saat pembelajaran.
C.    SKEMA ALUR PIKIR SISWA

                                                  
   
Skema alur pikir siswa di atas saya sebut juga sebagai hermeneutika alur pikir siswa. Bahwa dalam hermeneutika alur pikir siswa terdiri dari tiga komponen, yaitu garis lurus, lingkaran, dan spiral alur pikir siswa. Garis lurus menggambarkan siswa sebagai subjek belajar yang terus mengalami perkembangan secara fisik, kompetensi, maupun pengetahuan, dan hal tersebut terus bergerak maju atau tidak akan kembali pada masa yang pernah dilalui peserta didik tersebut. Seperti misalnya kita mengambil contoh dari teori perkembangan Piaget, anak SD yang berada pada tahap operasional konkret akan terus mengalami perkembangan menuju tahap operasional formal dan anak tak akan kembali pada tahap sensori motor maupun tahap pra operasional. Oleh sebab itu, guru harus mampu memahami tahap perkembangan anak ini, untuk dijadikan dasar ketika guru membuat desain dan melaksanakan pembelajaran.
Lingkaran menggambarkan pengalaman proses belajar yang dialami oleh siswa dengan  menggunakan berbagai pendekatan, metode, model, dan mendasarkan pada berbagai teori belajar siswa yang tentunya dalam penggunaannya disesuaikan dengan karakteristik siswa itu sendiri.
Spiral hermeneutika menggambarkan penggabungan dari kedua komponen garis dan lingkaran yang berarti kedua hal tersebut saling berinteraksi dalam suatu sistem yang berkelanjutan atau berkesinambungan.


DAFTAR PUSTAKA
Abras, C., Maloney-Krichmar, D., Preece, J. (2004). User-centered design. W. Encyclopedia of Human-Computer Interaction. Thousand Oaks: Sage Publications. Retrieved January 25, 2008 from http://www.ifsm.umbc.edu/~preece/Papers/User-centered_design_encyclopedia_chapter.pdf

Anderson, T. (2004). Chapter 2: Toward a theory of online learning theory and practice of online learning (Anderson, T., & Elloumi, F., Eds.) (33-59). Retrieved November 20, 2007, from http://cde.athabascau.ca/online_book/ch2.html

Bandura, A. 1977a. Self-Efficacy: Toward a unifying theory of behavior change. Psychological Review, 84, hal. 191-215

Baran, S.J & D.K. Davis. 2000. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future. 2nd edition. Belmon, CA: Wadsworth

Baranowsky, T, C.L. Perry & G.S. Parecel. 1997. How Individuals, environments, and health behavior interact: Social Cognitive Theory. Dalam K. Glanz, F.M. Lewis, & BK Rimer, Health Behavior abd Health Education: Theory, Research, and Practice. 2nd edition. San Francisco: Jossey-Bass

Bates, Reid. (2004) A critical analysis of evaluation practice: The kirkpatrick model and the practice of beneficence. Evaluation and Program Planning, 27, 341-347.
Beatty, K. (2002). Describing and enhancing collaboration at the computer. Canadian Journal of Learning and Technology, 28. Retrieved February 20, 2007 from http://www.cjlt.ca/content/vol28.2/beatty.html
Bleuel, D., & Peloso, C. (2002, July 11). Gav and Peloso's interactive story. Retrieved February 25, 2008, from http://www.nuc.berkeley.edu/~gav/wayfarence/.
Bruffee, Kenneth (1993). Collaborative Learning. Baltimore: The Johns Hopkins University Press. pp. 28–51.

Capra, F. (2005). Complexity and life. Theory, Culture & Society, 22(5), 33-44.
Chapman, Alan. (2007) Kirkpatrick’s Learning and Training Evaluation Model. Retrieved Feb 7, 2009 from http://www.businessballs.com/kirkpatricklearningevaluationmodel.htm

Chen, G., & Chiu, M. M. (2008). Online discussion processes. Computers and Education, 50, 678 – 692.

Chiu, M. M. (2000). Group problem solving processes: Social interactions and individual actions. for the Theory of Social Behavior, 30, 1, 27-50.600-631.

Chiu, M. M. (2004). Adapting teacher interventions to student needs during cooperative learning. American Educational Research Journal, 41, 365-399.
Chiu, M. M., & Khoo, L. (2005). A new method for analyzing sequential processes: Dynamic multi-level analysis. Small Group Research, 36, 600-631.


Chiu, M. M. (2008). Flowing toward correct contributions during groups' mathematics problem solving: A statistical discourse analysis. Journal of the Learning Sciences, 17 (3), 415 - 463.
Clark, Donald. (2007). Instructional system development – evaluation phase. Retrieved Feb 7, 2009 from http://www.skagitwatershed.org/~donclark/hrd/sat6.html
Crone, Glen. (2005). Evaluation of executive training. Treasury Board of Canada Secretariat Retrieved Feb 20, 2009 from http://www.tbs-sct.gc.ca/eval/pubs/eet-efcs/eet-efcs_e.asp

Dearden, A. (2008, Spring2008). User-Centered Design Considered Harmful (with apologies to Edsger Dijkstra, Niklaus Wirth, and Don Norman). Information Technologies & International Development, 4(3), 7-12. Retrieved January 25, 2009, from Business Source Complete database.
Dick, Walter. (2002). Chapter 11 Evaluation in instructional design: The impact of kirkpatrick’s four-level model. In Robert Reiser & John Dempsey (Eds.), Trends and issues in instructional design and technology (pp. 145-153). Prentice Hall.
Dillenbourg, P. (1999). Collaborative Learning: Cognitive and Computational Approaches. Advances in Learning and Instruction Series. New York, NY: Elsevier Science, Inc.
Downes, S. (2008). Placed to go: Connectivism & Connective Knowledge. Innovate 5 (1). Retrieved from http://www.innovateonline.info/index.php?view=article&id=668
Ertmer, P. A., Newby, T. J. (1993). Behaviorism, cognitivism, constructivism: Comparing critical features from an instructional design perspective. Performance Improvement Quarterly, 6 (4), 50-70.

Fraser, S. W., & Greenhalgh, T. (2001). Coping with complexity: Educating for capability. BMJ (Clinical Research Ed.), 323(7316), 799-803
Furnish, T. (2008). Superstory. Retrieved February 28, 2008, from http://www.hungrysoftware.com/#/online/story/.
Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally

Gonzalez, C. (2004). The role of blended learning in the world of technology. Retrieved from http://www.unt.edu/benchmarks/archives/2004/september04/eis.htm
Graham, G. (2007). Behaviorism. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Retrieved January 27, 2008 from, http://plato.stanford.edu/archives/fall2007/entries/behaviorism/

Gredler, M. E. (2005). Learning and instruction: Theory into practice (5th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson Education
Harding-Smith, T. (1993). Learning together: An introduction to collaborative learning. New York, NY: HarperCollins College Publishers.

Heinich, R., Molenda, M., Russel, J.D., & Smaldino, S.E. (1996). Instructional media and technologies for learning. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Katz-Hass, R. & Trutchard, A. (1998). Ten Guidelines for User-Centred Web Design. Usability Interface, Vol 5, No. 1.
Kaufman, R., Keller, J. & Watkins, R. (1995). What works and what doesn’t: Evaluation Beyond Kirkpatrick. Performance and Instruction, 35(2), 8-12.
Kirkpatrick, D. L. (1996). Techniques for Evaluating training programs. In Donald P. Ely, & Tjeed Plomp (Eds). Classic writings on instructional technology (pp.119-141). Libraries Unlimited.
Kumar, M. & Natarajan, U. (2007) 'A problem-based learning model: showcasing an educational paradigm shift', Curriculum Journal, 18:1, 89 – 102

Lankshear, C., & Knobel, M. (2008). The “twoness” of learn 2.0: Challenges and prospects of a would-be new learning paradigm. Closing keynote presented at the Learning 2.0: From Preschool to Beyond, Montclair State University, Montclair, NJ.
Lee, C.D. and Smagorinsky, P. (Eds.).(2000). Vygotskian perspectives on literacy research: Constructing meaning through collaborative inquiry. Cambridge, England: Cambridge University Press.

Mayer, R. (2004). "Should there be a three-strikes rule against pure discovery learning? The case for guided methods of instruction". American Psychologist 59 (1): 14–19. doi:10.1037/0003-066X.59.1.14. PMID 14736316.

Mergel, B. (1998). Instructional design & learning theory. Retrieved February 18, 2007 from http://www.usask.ca/education/coursework/802papers/mergel/brenda.htm#Behaviorism

Mitnik, R., Recabarren, M., Nussbaum, M., & Soto, A. (2009). Collaborative Robotic Instruction: A Graph Teaching Experience. Computers & Education, 53(2), 330-342.

Myers, D. G. (1995). "Psychology: Fourth Edition". New York: Worth Publishers.

Norman, D. (1988). The Pychology of Everyday Things. New York: Doubleday.

Oxford, R. (1997). Constructivism: shape-shifting, substance, and teacher education applications. Peabody journal of education, v. 72 (n1), p35. Retrieved Sunday, March 04, 2007 from the ERIC database.
Paradise, R. (1985). Un análisis psicosocial de la motivación y participación emocional en un caso de aprendizaje individual. Revista Latinoamericana de Estudios Educativos, XV, 1, 83-93.

Siemens, G. (2005). Connectivism: Learning as network-creation. American Society for Training & Development. Retrieved from http://www.astd.org/LC/2005/1105_seimens.htm
Siemens, G. (2004). Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age. Retrieved from http://www.elearnspace.org/Articles/connectivism.htm
Siemens, G. (n.d.). About: description of connectivism. Retrieved from http://www.connectivism.ca/about.html
Siemens, G. (2006). Connectivism – Learning Theory or Pastime for the Self-Amused? Retrieved from http://www.elearnspace.org/Articles/connectivism_self-amused.htm

Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon

Smith, B. L., & MacGregor, J. T. (1992). “What Is Collaborative Learning?". National Center on Postsecondary Teaching, Learning, and Assessment at Pennsylvania State University

Sorensen, E. K. (2005). Networked elearning and collaborative knowledge building: Design and facilitation. Contemporary Issues in Technology and Teacher Education, 4(4), 446-455.

Stahl, G. (2000). A Model of Collaborative Knowledge-Building. In B. Fishman & S. O'Connor-Divelbiss (Eds.), Fourth International Conference of the Learning Sciences (pp. 70-77). Mahwah, NJ: Erlbaum.

Stahl, G. (2002). A Model of Collaborative Knowledge-Building: A Slide Presentation. Retrieved from the World Wide Web on February 28, 2009 athttp://www.ischool.drexel.edu/faculty/gerry/publications/conferences/2000/icls/slides_files/frame.htm#slide0001.htm

Stahl, G. (2002).Webguide: Encouraging and Supporting Collaborative Knowledge-building: A Slide Presentation. Retrieved from the World Wide Web on February 28, 2009 athttp://www.cis.drexel.edu/faculty/gerry/publications/conferences/2000/aera2000/aera2000_files/frame.htm

Sungur, S., Tekkaya, C., & Geban, O. (2006). Improving achievement through problem-based learning. Journal of Biological Education, 40 (4), 155 – 160.

Vianna, E. & Stetsenko, A.(2006). Embracing history through transforming it: contrasting Piagetian versus Vygotskian (Activity) theories of learning and development to expand contructivism within a dialectical view of history. Theory & Psychology. Sage Publications. Vol. 16(1): 81–108.

Verhagen, P. (2006). Connectivism: A new learning theory? Retrieved from http://elearning.surf.nl/e-learning/english/3793

Vygotsky, L.S. (1978). Mind and society: The development of higher mental processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Wolman, Benjamin B. (1973). Handbook of General Psychology. New Jersey: Prentice Hall, Inc.


Woolfolk, A. E., Winne, P. H., & Perry, N. E. (2000). Educational Psychology, Canadian Edition. (pp. 42-48; Cognitive Develoment and Language). Scarborough: Allyn and Bacon Canada.